Page 163 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 163
“Ayah, kita pindahkan saja ibu ke rumah sakit lain!” pinta
anakku.
“Apakah ada rumah sakit yang menerima, jika tidak ada
rekomendasi?” ucapku.
“Akan saya usahakan, Yah,” jawab anakku.
**
Mentari perlahan bergeser menuju ke peraduan. Hari
tampak semakin redup. Namun, rasa lelah di badan tidak
kurasa. Anakku pun mondar‐mandir berjalan ke sana ke mari
bak setrika yang dikendalikan empunya. Dengan telepon
genggam yang selalu bertengger di telinganya.
“Terima kasih, Dok. Assalamualaikum.” Kata terakhir
yang kudengar dari bibir anakku ketika mengakhiri
pembicaraan dengan dokter yang mengusahakan
perpindahan istriku ke rumah sakit lain.
Tiupan udara malam itu mulai terasa menggoyang baju
dan rambutku yang mulai lusuh. Sunyi senyap tak ada bunyi
kendaraan yang kudengar. Sesekali kulihat kendaraan roda
dua yang melintas. Hanya bunyi sirene ambulance yang
kudengar dengan jelas mengantar istriku ke rumah sakit.
Malam yang terasa panas dan sesak bukan karena
ruangan mobil ambulance ber‐AC, namun suasana hatiku yang
panas saat kugenggam erat tangan istriku. Rasa kangen yang
membara menyesakkan dada. Tidak terasa tiba‐tiba butiran
air mata jatuh membasahi pipi. Mengingat kenangan bersama
dia yang kucinta.
**
Istriku, belahan jiwa yang sudah 35 tahun mengarungi
bahtera rumah tangga bersamaku. Pasang surut kehidupan
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 151

