Page 164 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 164
dalam biduk rumah tangga kami lalui bersama. Di dalam
rumah mungil yang aman, nyaman, dan tenteram untuk
berlindung dari badai yang setiap saat bisa menyerang.
Dua bocah buah hati hasil pernikahanku tumbuh menjadi
sosok yang sukses dalam cita dan cintanya. Aku bersyukur
atas karunia‐Nya. Malaikat kecil yang jelita nan elok dan
pintar hadir di tengah‐tengah keluarga kami. Membuat aku
dan istri merasa sempurna dalam kebahagiaan.
Di suatu senja merah memesona, aku dan keluargaku
menikmati indahnya pesona alam di kawasan Kota Batu. Di
sorot matanya kulihat kebahagiaan yang terpancar. Aku dan
dia saling memandang sembari bergumam,
“Aku sangat bahagia bersamamu.” Kebersamaan dan
keharmonisan di antara kami selalu kurajut dengan benang‐
benang saling memahami. Meskipun ada kerikil‐kerikil kecil
yang sesekali menghampiri, namun aku dan dia berusaha
saling menguatkan.
**
Desir angin bertiup kencang dari pintu belakang saat
mobil dibuka. Sontak membuyarkan lamunanku. Kembali aku
tersadar akan diriku yang masih menggenggam tangan istriku
dalam ambulance.
Tampak para tenaga medis lengkap mengenakan alat
pelindung diri (APD). Mereka siap memberikan pelayanan
terbaiknya kepada istriku. Semua alat dipasang. Ada
continous positive airway pressure (CPAP), ventilator, tabung,
regulator oksigen, dan lainnya.
“Tidurlah, Istriku. Esok kita sambut pagi yang indah.
”Istriku tidur dengan tenang. Dari pagi hingga petang. Di siang
152 | 80 Cerpenis MediaGuru

