Page 167 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 167
mencintai. Keberpihakan Sari membuatku tak sanggup
membunuh perasaan ini. Aku akan menjaga rasa ini hingga
tak seorang pun tahu.
Tapi, terkadang ada perih kurasakan. Terkadang ada
sebongkah kebahagiaan. Sampai kapan aku bertahan akan
perasaan tak terbalas ini. Aku hanya manusia bonsay yang
memiliki hati dan rasa istimewa pada manusia yang memiliki
hati. Bedanya denganku, manusia yang bernama Doni tak
memiliki rasa istimewa padaku.
Kini, aku terdampar di tengah lautan hatinya. Aku
tenggelam dalam lembah perasaanku. Tak akan ada yang bisa
membawaku ke daratan. Besarnya ombak cinta sungguh
tengah menggulungku. Tapi, aku merasakan bahagia. Bahagia
ketika aku jatuh cinta.
“Aduh, sakit!” keluhku meringis saat kakiku
bersenggolan dengan kursi di sampingku.
Perlahan aku duduk dan mulai mengurut kakiku yang
terkena benturan kursi. Gara‐gara terpana melihat Doni,
kakiku merasakan nikmatnya bersentuhan dengan kursi.
Pedih terasa, tapi aku bahagia masih bisa melihat Doni hari
ini.
“Nih pulpenmu, Rin. Eh, kenapa kakimu diurut seperti
itu?” tanya Mila mengamati tanganku yang menari‐nari di atas
kakiku. Aku tersenyum menahan sakit.
“Terbentur kursi itu, Mil,” jawabku sambil menunjuk
kursi di depanku.
“Kok bisa? Ada‐ada saja kamu, Rina. Aku bantu mengurut
kakimu, ya.”
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 155

