Page 170 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 170
Afri dikenal nakal oleh bapak dan ibu guru. Suka
terlambat dan tidak membuat tugas. Banyak laporan dari
guru. Jika terlambat, dia sering disuruh keluar dari ruangan
kelas. Pernah dia terlambat dalam pembelajaranku. Aku suruh
dia berdiri sambil belajar. Terlambat yang kedua, aku suruh
menghafal surah pendek Al‐Fiil. Jika sudah hafal boleh duduk
di tempatnya dan belajar seperti biasa. Semenjak itu dia tak
berani lagi terlambat. Pulang sekolah dia pun menemuiku.
“Bu, saya mau curhat dengan Ibu. Apa Ibu punya
waktu?” katanya dengan memelas.
Aku bawa dia ke ruang khusus di belakang ruang guru.
Aku persilakan dia duduk dan kupandang wajahnya yang
kusut masai itu.
“Ada apa, Nak?” tanyaku.
“Saya mau pindah, Bu,” katanya. “Saya tak betah di sini.
Kawan‐kawan sudah benci, guru pun sudah muak melihat
wajah saya, kecuali Ibu,“ katanya dengan menahan tangis dan
suara tertekan.
Batinku terasa terluka mendengar cerita anak ini. Wajar
dia suka bolos. Kasihan anak ini. Keegoisan orang tua
membuat anaknya tak tahu arah dan tidak mengenal figur
orang tuanya. Dia menangis tersedu‐sedu menceritakan
kisahnya yang begitu perih.
Tak terasa air mataku mengalir semakin lama semakin
deras. Aku peluk bahunya yang kurus dan terasa tulangnya.
Badannya yang ceking tak terurus. Aku beri nasihat jika
pindah nanti, sekolah yang serius dan rajin membantu agar
orang sayang sama kita. Dia berjanji dan mohon izin pulang.
158 | 80 Cerpenis MediaGuru

