Page 175 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 175

“Ada kroket, soles, lupis, kue, Bu.” Karena kesal pemilik
              rumah mengusir dan menggeleng agar Mak Cah tahu bahwa
              dia  tak  berminat  akan  kue‐kuenya.  Akhirnya,  Mak  Cah
              meninggalkan rumah tersebut. Dia kembali menyusuri jalanan
              dan dan terus berteriak.
                   “Kue, kue...” hingga suaranya hilang di ujung gang.
                   Matahari  sudah  sepertiga  condong  ke  arah  barat.  Terik
              sinarnya sedikit berkurang dibandingkan saat sang bagaskara
              itu tepat berada di atas kepala. Alhamdulillah, walau tinggal
              sedikit, hari ini masih ada yang membeli kuenya.
                   Sesampai di rumah, tetangga yang menitipkan kue satu
              per  satu  datang  mengambil.  Dari  dua  ratus  kue  yang  dia
              bawa,  hari  ini  tersisa  dua  puluh  buah.  Kue  yang  tersisa
              diberikan  mereka  kepada  Mak  Cah.  Hari  ini,  Mak  Cah
              mendapat  upah  tiga  puluh  enam  ribu  rupiah.  Walau  tidak
              sebanyak  jika  dia  berjualan  di  pasar,  dia  masih  bersyukur  di
              usia senjanya masih dapat mengais rezeki.

                   Langit  kian  kelam.  Seberkas  sinar  tampak  mengintip  di
              balik  awan.  Rembulan  telah  sepenuhnya  mengambil  alih
              tugas  sang  mentari.  Meski  sinarnya  tak  terang  benderang,
              namun mampu menerangi langit malam yang begitu redup.
                   Hari  ini,  entah  mengapa  seluruh  tubuhnya  terasa  kaku.
              Napas  mulai  terasa  sesak.  Kepala  serasa  berdentum  hebat.
              Tenggorokan terasa sakit, saat meneguk segelas air. Ingin ke
              dokter, apalah daya. Uang yang dia miliki dapat sehari habis
              sehari.  Mungkin  tidur  akan  membuat  sakit  yang  diderita
              berkurang.
                   Berusaha untuk memejamkan mata sejenak, akhirnya dia
              tertidur.  Lelap.  Sangat  lelap.  Hingga  tetangga  mulai


                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 163
   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180