Page 179 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 179

Kemudian  kami  menikah  di  Jakarta  dengan  pamanku
              sebagai wali nikah. Meski hatiku hancur berkeping karena tak
              mendapat  restu  papa,  namun  aku  bahagia  menyongsong
              masa  depanku  dengan  Ken.  Setahun  kemudian  lahirlah
              putraku,  Akira.  Lucu  dan  menggemaskan.  Dia  sangat  mirip
              dengan  Ken.  Aku  mengabari  papa  lewat  pamanku.  Namun,
              papa  sakit dan  akhirnya  wafat.  Aku  begitu  terguncang,  tapi
              paman  meyakinkanku  bahwa  papa  telah  memaafkanku  dan
              memberikan nama Akira untuk cucunya.
                   Manisnya berumah tangga kurasakan hanya setahun saja
              dengan  Ken.  Dia  dipanggil  orang  tuanya  untuk  pulang  ke
              negaranya  karena  ibundanya  sakit.  Tak  akan  mungkin  Ken
              yang  sangat  berbakti  kepada  orang  tuanya  tidak  menuruti
              permintaan itu.
                   Kemudian Ken berangkat. Aku dan Akira mengantarnya
              hingga  ke  bandara.  Tangisan  Akira  yang  masih  berumur
              setahun  itu  sangat  menyayat  relung  hatiku.  Mengapa  Akira

              begitu histeris ditinggal ayahnya. Tidak seperti biasanya, aku
              sangat sulit mendiamkan Akira yang berontak dengan tenaga
              yang begitu kuat.
                   Lalu, kami dan Ken berpelukan sangat erat. Kugenggam
              terus  tangan  Ken  hingga  panggilan  boarding  terakhir.
              Kubangan  air  mataku  tak  dapat  lagi  kubendung  dan  lamat‐
              lamat aku berucap, “cepat kembali, Ken.”










                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 167
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184