Page 182 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 182
“Eee jangan ditarik, aku tidak pakai celana kolor, dingin!”
teriak Wakidi sambil menarik sarungnya sampai pusar.
“Apa sarapan sudah siap, kok saya sudah dibangunkan.”
timpalnya lagi.
“Sudah, itu di meja,” jawab Marni ketus.
Dengan langkah gontai Wakidi berjalan ke meja
serbaguna. Meja satu‐satunya yang ada di gubuk itu. Kalau
ada tamu, berfungsi sebagai meja tamu. Bila saatnya makan
berubah menjadi meja makan. Setelah meletakkan pantat di
kursi bambu, Wakidi segera membuka tudung saji plastik
yang sudah berlubang di sana‐sini. Seketika matanya melotot
menatap sambal di cobek dan tempe goreng 2 potong saja.
“Marni!” panggil Wakidi kepada istrinya.
“Iya, Kang, ada apa?” jawab Marni tenang.
“Lauknya mana untuk sarapan?” tanya Wakidi dengan
nada tinggi.
“Ya ampun, Kang, ‘kan sudah ada sambal terasi dan
tempe goreng? Mau minta apalagi? Bagus sudah kubikinkan
sarapan. Kamu kerja biar dapat duit untuk beli lauk yang kau
suka.”
“Uang yang kuberikan kemarin mana? Aku sudah
memberikan semua uang BLT. Masih kurang? Jangan‐jangan
dibelikan gincu?” ujar Wakidi menuduh.
“Aduh, Kang, kamu itu buka mata, buka telinga. Senin,
besuk Yu Romlah yang kena diabet. Selasa, datang ke
pernikahan Kang Wardoyo. Rabu, anakmu Joko dan Lastri
minta uang buat beli kuota internet. Mereka sering dimarahi
gurunya gara‐gara tidak bisa ikut pelajaran lewat gawai.
Minggu lalu aku dipanggil ke sekolah karena mereka tidak
170 | 80 Cerpenis MediaGuru

