Page 187 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 187
Topeng
Oleh: Nopiranti
T
irai malam menutup episode hidup hari ini. Sunyi
mayapada mengajak raga luruh dalam dekap peraduan
yang lembut. Sesaat jiwa melayang tenang. Namun,
sayup suara itu memaksa pancaindra kembali siaga.
Fauzan mengigau. Dia memanggilku. Saat aku
membalikkan badan, kulihat bungsuku yang baru kelas 1 SD
itu, lelap tertidur memeluk guling. Namun, mulutnya
bergerak‐gerak. Sebuah kalimat keluar dari bibirnya.
“Ibu bahagia, bukan?”
Lalu sunyi menyergap.
Fauzan tertidur lagi. Selengkung bulan sabit terlukis
indah di wajah tampannya.
Aku tidak tahu apa yang Fauzan alami
dalam pejamnya yang damai. Namun, tebersit keyakinan
menghampiri prasangkaku, Fauzan pasti sedang melihat aku
tersenyum. Vitamin jiwa yang tak pernah lupa aku jejalkan ke
dalam hati dan benak ketiga jagoanku.
Senyum kupastikan menjadi hal pertama yang terekam
mata saat mereka terbangun. Senyum juga selalu kusuguhkan
sebagai menu utama di sepanjang hari yang sibuk dan
melelahkan. Bahkan, hingga Fandi, Fadli, dan Fauzan tenang
terlelap di malam hari.
Senyum merupakan harta paling berharga. Warisan
terindah yang bisa aku berikan untuk buah hati yang selama
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 175

