Page 191 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 191
Flamboyan Meranggas
Oleh: Nunuk Indrayanti
K
esunyian dalam kegelapan tanpa rembulan. Kesepian
di ketiadaan, dingin bersama hilangnya kehangatan.
Cahayaku redup, terombang‐ambing embusan angin
September.
Apalagi yang kusesali, tak ada lagi yang kutangisi.
Rintihan atau banjir air mata pun tak akan membuat
kehidupanku benderang seketika. Tak akan simsalabimnya
Pak Tarno, mengenyahkan perdu‐perdu kehidupan yang
melilitku.
Bunga yang layu itu aku. Kecantikanku tak sempat mekar,
mewangi, dan mengundang kumbang‐kumbang. Rembulan
yang diharap purnama, bersanding dengan sang bintang di
ketinggian, ternyata tertelan gerhana.
Aku, Flamboyan Divanadia, anak kedua dari tiga
bersaudara. Kenanga Dahayu, kakakku, adalah teman
sekaligus musuh terbaik di rumah. Kami bisa berbagi apa saja,
teman, makanan, mainan, cerita, dan rahasia. Alder Aptanta,
adikku satu‐satunya, si tampan pewaris trah Hadinata.
“Kenapa memakai nama bunga untuk kami, Pa?” tanyaku
heran.
“Mama yang memilih, maknanya bagus seperti doa‐doa
Papa,” jawab papa meraihku dalam peluk hangatnya.
“Tetapi aku tidak secantik Kak Kenanga?” Rajukku manja
meminta cintanya.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 179

