Page 192 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 192
“Setiap bunga punya keindahan sendiri untuk
dipamerkan.” Kecupan papa di jidat nonongku memenuhi
tuntutanku.
Kalimat papa dan pelukannya membangkitkan jiwaku.
Aku punya keindahan yang harus kutunjukkan pada dunia.
Aku akan menjadi nomor satu. Aku harus berpacu,
ketekunan, dan kesungguhanku berbuah manis. Perlahan
peringkatku merangkak naik. Di kelas lima keindahan
Flamboyan Divanadia semarak.
Flamboyan bersinar di SMP, tiga besar pasti kuraih.
Walaupun tidak juara satu, ketenaranku ditunjang jabatanku
sebagai ketua OSIS. Namaku populer. Kata guru dan teman‐
teman, aku ramah, supel, dan pintar menempatkan diri.
Semua sayang padaku.
***
Sewaktu SMA, aku kalah satu suara dengan Regan, si
oppa korea. Cowok keren ini memanfaatkan anugerah‐Nya
untuk memikat cewek‐cewek. Kekalahanku merebut jabatan
ketua OSIS, kubayar dengan kebanggaan lain. Hobiku
mendengarkan musik mancanegara dan membaca novel
bahasa Inggris, ternyata banyak nilai plusnya. Mendongeng
sampai debat bahasa Inggris adalah panggungku.
Aku berlari di hamparan ladang bunga astelluccio. Warna‐
warni bunga popi, daisy, dan cornflower, meninabobokkan
mata pecintanya. Kurentangkan tangan, kugapai angin,
kupejamkan mata, dan kuhirup udara. Lembut, mengalir,
meraba pipi, menjauh, dan menghilang.
Aku terpaku, tersadar, dan nanar kupandang sekeliling.
Warna oranye kemerahan terserak di permukaan bumi.
180 | 80 Cerpenis MediaGuru

