Page 193 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 193

Flamboyan  di  akhir  musim  panas,  bunga  semusim  luruh
              menutupi pertiwi.
                  Di  pangkuan  mama,  aku  meluruhkan  tangis.  Sesal  dan
              takut. Kubenamkan di kehangatan pelukannya.
                  “Kenapa,  Vania.”  Gemetar  suara  mama  tak  mampu
              menyelesaikan pertanyaannya. Pandangannya kabur oleh air
              mata.
                  “Vania salah dan lalai, Ma. Vania ….” Aku juga tak mampu
              menjelaskan.
                  Bukan salah mama atau papa, aku yang lemah. Dua bulan
              lalu,  penyakit  tifus  mengharuskanku  tidak  sekolah.  Rangga
              mengantarkan  tugas  kelompok.  Mama  sedang  menghadiri
              pertemuan di SD Alder dan papa di kantor.
                  Aku  penasaran  terhadap  Rangga,  cowok  tampan  tapi
              kuper, menggodaku. Tawaranku menikmati sirup membawa
              kami  ke  sofa  ruang  tamu.  Gurauan  hangatku,  membuatnya
              nyaman. Aku terkesima, ada yang mengelitik di hati. Pusing

              menyerangku dan membuatku hampir terjatuh. Rangga gesit
              menangkap badanku dan kami terlena.
                  Flamboyan meranggas, hamparan guguran bunga oranye
              kemerahan  menutupi  jalanan.  Semangat  api  di  tengah
              hijaunya  dedaunan  meredup.  Musim  berganti  dan  tahun
              depan mampukah Flamboyan menyala lagi?












                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 181
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198