Page 198 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 198
Bahagia Bersamamu
Oleh: Nurleini
S
iang ini sang surya tidak memancarkan cahayanya
dengan garang. Awan putih yang menutupi berarak
pelan tak tau arah ke mana arah angin bertiup. Aroma
tanah yang basah dan lembab sangat terasa. Sepasang kakiku
penuh lumpur melangkah mundur dan pelan dengan bibit di
tangan sudah siap untuk ditanami.
Kutanami benih padi yang mulai mengering pada tanah
yang baru selesai dicangkul. Tanganku menyeka peluh yang
berceceran di kening serta muka yang kututup dengan caping
yang sudah berubah warna akibat sering terpapar sang surya
dan hujan. Semakin kuseka semakin banyak lumpur
menempel di kening serta mukaku.
Aku seorang ibu rumah tangga yang terpaksa harus turun
tangan ke sawah membantu suami. Padahal dari kecil aku tak
pernah ke sawah. Dulu nenek pernah mengajak, tapi aku
tidak pernah ikut. Takut hitam dan jijik dengan cacing.
Nenek hanya tersenyum mendengar alasanku. Ketika aku
berumur lima tahun kedua orang tuaku meninggal dunia
akibat kecelakaan mobil. Aku diasuh oleh nenek seorang diri
karena kakek juga sudah meninggal. Nenek sangat
memanjakanku karena aku cucu satu‐satunya.
Nenek meninggal satu bulan setelah aku selesai ujian
akhir sekolah menengah. Aku menjerit, tempat bergantungku
sudah putus. Asaku melayang, semua menjadi gelap.
186 | 80 Cerpenis MediaGuru

