Page 199 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 199
Beberapa petak sawah peninggalan nenek dengan terpaksa
kujual untuk memenuhi kebutuhan dan juga tidak bisa
mengelolanya.
Seorang pemuda yang selalu memberiku perhatian
beberapa tahun terakhir melamarku menjadi istrinya.
Namanya Syafrudin, yang biasa kupanggil Uda Pudin. usianya
empat tahun lebih tua dariku. Dia tidak melanjutkan
pedidikan karena keterbatasan biaya. Kegiatan sehari‐harinya
membantu orang tua di sawah.
Sudah tiga kali panen kami gagal karena hama ditambah
musim kemarau yang panjang. Tiga ekor kambing sudah
terjual untuk kebutuhan hidup dan bayar utang pembeli
pupuk. Biasanya suamiku memberi upah untuk orang yang
membantunya di sawah, tapi sekarang biayanya tidak ada.
Kami belum mempunyai tabungan. Akhirnya kami berdua
yang mengolah sawah tanpa bantuan orang lain lagi. Ada rasa
pedih direlung hatiku. Seandainya dulu aku ikut belajar
bersama nenek tidak mungkin aku merasa canggung seperti
ini. Tanpa terasa tetesan bening mengalir membasahi pipiku.
Matahari sudah mulai condong ke arah barat. Benih yang
kutanam di sawah telah habis. Kulangkahkan kaki ke pincuran
dekat gubuk yang airnya mengalir sangat sedikit. Kubasuh
tangan dan kaki. Kulihat Uda Pudin masih berada di
pematang sawah menyabit rumput untuk makan ternak
tetangga. Uda Pudin melihat ke arahku, dia tersenyum.
Kulambaikan tangan memanggilnya untuk istirahat.
“Kalau panen kita kemarin berhasil, nggak mungkin kamu
ikut ke sawah seperti ini, Dek. Selama ini nggak pernah ke
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 187

