Page 195 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 195
Guruh Gelombang
Oleh: Dra. Nur Handayani
D ebur ombak terdengar indah. Gelombang datang,
bergemuruh dari kejauhan. Bagaimana melanjutkan
langkahku, padahal di depan ombak begitu gagah
menghalangi. Hanya sedikit telinga yang mau mendengarkan
keluh kesahku. Pada ombak kuceritakan sebait masalah
tentang Bilqis, anakku.
Tangisnya tiada henti menyesali ketidakberdayaan. Cita‐
citanya begitu membuncah menggapai mimpi. Suara Bilqis
masih terdengar sesegukan. Sambil menyeka matanya yang
basah berkata, “Aku nggak bisa sekolah di pondok karena
bapak nggak ada ya, Bu?”
Pertanyaan yang berulangkali diungkapkan Bilqis
kepadaku. Padahal dia tahu jawabannya. “Sabar ya, Nduk, Ibu
belum punya cukup uang untuk memasukkanmu ke pondok.
Kamu tahu, jualan gorengan Ibu belum bisa menutup
kebutuhan makan kita sehari‐hari. Apalagi biaya sekolah di
pondok pesantren tidak kecil,” tuturku sambil mendekati
anak gadisku yang baru lulus sebagai siswa berprestasi dan
hafizah 1 juz di MIN dekat rumah.
Sambil melipat mukena yang barusan digunakan salat
Duha anakku yang nomor dua ini. Kujelaskan bahwa Bilqis
tidak perlu iri dengan nasib kakaknya yang dulu sempat
mondok di pesantren terkenal di kotaku. Saat ini Umar, anak
sulungku, naik kelas XII MAN. “Semua sudah diatur Gusti
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 183

