Page 196 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 196
Allah, kepergian bapakmu tidak perlu kamu sesali. Toh Bilqis
masih bisa melanjutkan ke MTs Negeri yang tidak perlu
membayar,” ungkapku menghiburnya. Namun, masih kulihat
warna sendu dalam matanya yang redup.
Kepergian bapaknya memang menyesakkan dada kami.
Suamiku pergi entah ke mana. Setahun yang lalu dia memilih
meninggalkan kami berempat, untuk hidup serumah bersama
perempuan ingusan seusia anakku yang sulung. Tak
digubrisnya anak bungsuku, Lila, mencari‐cari bapaknya.
Sering kujawab kalau bapaknya akan pulang membawa
boneka barbie untuknya.
Aku lelah membangun istana impian, jika kau selalu
menghancurkan. Betapa luka ini terlalu dalam. Sebagai istri,
apa kekuranganku hingga kau tergoda bocah sekolah seusia
anak kita? Kau tinggalkan anak bungsu kita yang selalu
menanyakan keberadaanmu. Dengan kekuatan apa lagi aku
harus membangun dinding rumah kita agar tetap kokoh?
Umar, Bilqis, dan Lila masih membutuhkanmu. Mereka
membutuhkan biaya sekolah dan kehidupan yang layak
seperti dulu. Kehadiranmu sangat mereka nantikan.
Berjualan gorengan tidaklah cukup untuk menghidupi
tiga anak. Terkadang aku harus meminta bantuan bapak
untuk sekadar membeli kebutuhan dapur. Padahal uang
pensiunnya hanya cukup untuk biaya hidup berdua dengan
ibu. Di tengah pandemi covid‐19 ini, jualan gorenganku
kurang begitu laku, bahkan terkadang merugi. Belum lagi
harus membayar uang kontrakan rumah. Serasa beban berat
ini menghimpit bersama luka yang masih memerah. Entah
kapan kamu akan kembali, namun aku tidak boleh duduk
184 | 80 Cerpenis MediaGuru

