Page 189 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 189

bukan jawaban. Maka aku memilih turun ke jalan, menjajakan
              langsung daganganku dari rumah ke rumah.
                  Meski  lelah  dan  penat,  namun  semuanya  kulakukan
              dengan  tersenyum  dan  tetap  berprasangka  baik.  Demi  jiwa
              suci  ketiga  buah  hatiku.  Mereka  tidak  boleh  melihat  aku
              lemah, layu, dan dipenuhi sumpah serapah akan takdir yang
              menyapa.
                   Topeng senyum ini sekuat tenaga aku pasang sepanjang
              hari.  Sebagai  penguat  jiwaku  juga  sebagai  cermin  terbaik
              untuk  anak‐anak.  Lisanku  juga  kujaga  agar  tetap  santun
              menyampaikan  kabar  tentang  ayah  mereka.  Tidak  pernah
              kukatakan  sedikit  pun  keburukan.  Aku  ingin  mereka  tetap
              menghormati  ayah  mereka.  Karena  kelak  mereka  pun  akan
              jadi suami dan ayah.
                  Meski berat dan hatiku berontak, namun semuanya harus
              kulakukan.  Agar  anak‐anak  tumbuh  menjadi  pribadi  yang
              bahagia, bertanggung jawab, mau bekerja keras, pemaaf, dan

              penuh  keyakinan  bahwa  pertolongan  Allah  itu  dekat  bagi
              hamba‐Nya yang sabar dan pandai bersyukur.




















                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 177
   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194