Page 185 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 185
Aku seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta
untuk mata pelajaran Biologi. Awalnya aku hanya berusaha
dapat mencari nafkah dengan menjadi seorang guru honorer.
Namun, melihat semangat murid‐muridku di kelas membuat
aku lupa pada tujuan semula. Kelas bagiku menjadi tempat
untuk menuangkan segala inspirasi dalam membentuk
generasi masa depan yang membanggakan.
Kelasku tidak pernah sepi. Kadang, sebagian anak
berteriak saat aku menjelaskan materi proses reproduksi
manusia. Sebagian murid wanita agak malu‐malu. Sedangkan,
murid pria pada umumnya senyum‐senyum dan tertawa. Tak
heran kadang‐kadang aku melihat sekilas kepala sekolah
wajahnya muncul di salah satu jendela kelasku. Dan sudah
beberapa kali kepala sekolah mengawasi kelasku. Sampai
pada suatu hari beliau memanggilku ke ruangannya.
“Assalamualaikum,” ucapku. Sambil menahan rasa ragu
akhirnya aku masuk ke ruangan beliau.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Sobri, kepala sekolahku.
“Silakan duduk, Bu,” lanjutnya.
“Saya mohon maaf ya, Pak, kalau kelas saya selalu ramai
saat belajar. Apakah Bapak terganggu?” tanyaku dengan agak
sedikit gugup.
“ Oh, tidak masalah Bu Tina, selama anak‐anak itu belajar.
Saya memanggil Ibu ke sini bukan untuk membahas hal itu,”
jawab beliau sambil tersenyum manis dan menatapku dengan
tajam. Aku pun tersipu dan tertunduk malu.
Sejak saat itu Pak Sobri pun menjadi bagian hidupku.
Meski pada awalnya hatiku ragu untuk menerimanya. Saat itu
Pak Sobri adalah pria lajang yang sudah cukup matang bila
dilihat dari usia dan penampilannya. Sifatnya cukup bijaksana
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 173

