Page 184 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 184
Gerimis Rindu di Awal
September
Oleh: Nining Suryaningsih
M
alam semakin larut. Sang surya telah bersembunyi
di peraduan. Sementara, dewi malam belum juga
hadir menghiasi gelapnya senja. Tina belum bisa
memejamkan matanya. Sepi semakin menggigit. Perasaan
gundah gulana kian menggelayuti hatinya.
Jeritan hatinya seakan sampai ke langit ke tujuh. Angin
risau dan gemericik pepohonan mengiringi hujan jatuh di
beranda rindu. Tiada kata terucap di bibirku yang kelu.
Ingatanku melayang pada masa 22 tahun yang lalu.
Kesibukanku setiap pagi sudah menjadi rutinitas yang
harus aku lakukan sejak Mas Wahyu meninggalkan aku dan
kedua anakku untuk menghadap Sang Pencipta. Semua
pekerjaan rumah tangga dan mencari nafkah harus aku
lakukan sendiri. Aku tidak ingin anak‐anakku yang masih kecil
merasakan kegetiran hidup setelah ditinggal ayahnya. Aku
berusaha bangkit memberi semangat kepada anak‐anakku.
Tekad kutanamkan dalam hati. Aku harus kuat untuk menjadi
ibu sekaligus ayah bagi anak‐anakku.
“Assalamualaikum, Bu Tina,” sapa salah satu siswa ketika
aku baru saja tiba di depan gerbang sebuah sekolah swasta.
“Waalaikumsalam.” Aku membalasnya.
“Ayo, masuk kelas!” ajakku pada murid tadi sambil
berjalan ke ruang guru.
172 | 80 Cerpenis MediaGuru

