Page 177 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 177

Cinta dalam Semangkuk


                              Mie Shirataki


                               Oleh: Naili Rachmasari


              L
                    arik  cahaya  senja  menerobos  ke  jendela  kamarku.
                    Menembus  hatiku  yang  menerawang  ke  masa  lalu.
                    Semburat  kekecewaan  tak  bisa  kusembunyikan  dari
              wajahku. Begitu mendera hati atas penderitaan ini.
                   Dua tahun sudah Ken kembali ke negaranya. Meski aku
              sudah  menghubungi,  kamu  hanya  bilang  urusanmu  belum
              selesai.  Kelu  sekali  kamu  menjelaskannya  kepadaku.  Kamu
              tak   tahu    aku   sangat    merindukanmu      Ken.    Aku
              membutuhkanmu  untuk  Akira.  Tiba‐tiba,  Akira  menerobos
              pintu kamarku.
                  “Krayon,  krayon,  krayon!”  Teriakan  Akira  membuyarkan
              lamunanku.
                  “Apa, Nak? Kamu mau apa?” tanyaku lagi.
                  “Krayon, krayon,” jawab Akira agak gusar.
                  “Oh,  krayon.  Maafkan  Bunda,  Sayang.  Sebentar  Bunda
              ambilkan, ya,” ujarku sambil mencium keningnya.
                   Dan  Akira  mencoret‐coret  dinding  rumah  kami  yang
              sudah  penuh  gambarnya.  Aku  hanya  memandangnya.
              Terdiam. Hingga tanpa terasa bulir air mata mengalir hangat
              di pipiku.






                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 165
   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182