Page 174 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 174

Azan  subuh  berkumandang.  Kokok  ayam  jantan  saling
             sahut. Membangunkan Mak Cah yang masih tertidur pulas di
             kasur  tipisnya.  Badannya  masih  terasa  pegal  karena  setiap
             hari  menyusuri  jalanan.  Namun,  dia  harus  segera  bangun.
             Kue‐kue  yang  dia  jual  bukan  buatannya,  tetapi  titipan  para
             tetangga di sekitar rumah. Bukan dia tak mau membuat kue,
             tetapi risiko rugi terlalu besar, sedang dia tak memiliki modal.
                  Untuk  satu  kue  yang  dijual  seharga  seribu  rupiah,  dia
             akan  mendapat  upah  dua  ratus  rupiah.  Beraneka  jenis  kue
             yang dia jual. Ada ketupat lemak berisi sambal tumis, dadar
             gulung,  risoles,  kroket,  roti  gandum,  trisalat,  lopis,  dan  kue
             tradisional lainnya. Setelah semua kue terkumpul, dia segera
             bersiap  berangkat.  “Semoga  hari  ini  kuenya  banyak  laku
             terjual,” batinnya sebelum berangkat.
                  “Kue‐kue,  ade  soles,  lupis,  ketupat.”  Dia  berteriak
             menjajakan dagangannya.
                  Karena  dia  tuli,  terkadang  dia  tak  mendengar  jika  ada

             yang  memanggil  namanya.  Dia  akan  mendatangi  pelanggan
             hanya  melalui  lambaian  tangan.  Selebihnya,  dia  mendatangi
             satu per satu rumah orang yang biasa membeli kue‐kuenya.
                  Pelanggan yang baik, ada kalanya hanya memberi uang
             tanpa membeli kue. Ada juga yang memberi beras, pakaian,
             dan  lain‐lain.  Sampailah  dia  pada  suatu  rumah  mewah,  dia
             membuka pagar dan mengetuk pintu.
                  “Kue,  Bu?”  tawarnya  pada  pemilik  rumah.  Jawaban
             kurang menyenangkan dia dapatkan dari pemilik rumah.
                  “Bosan,  kue  Emak  itu‐itu  saja,”  katanya.  Tetapi,  karena
             Mak Cah tuli, dia tak mendengar ucapan tuan rumah. Masih
             dengan wajah polosnya dia bertanya lagi.


             162 | 80 Cerpenis MediaGuru
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179