Page 217 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 217

Aku  menjalani  hari  dengan  bayangannya.  Arjuna  masih
              rajin  mengirim  chat  dan  telepon  untuk  sharing  atau  hanya
              sekadar bertanya keadaanku. Betapa romantisnya dia, lelaki
              sederhana,  bijak,  dan  lucu  itu.  Aku  sebenarnya  sudah  ingin
              meninggalkan Arjuna‐ku. Karena tanpa ijin ibu, hubungan ini
              apa  gunanya.  Galau  setiap  melihat  chat  dan  mendengarkan
              suaranya. Aku rajin membaca dan membalas chat‐nya karena
              hatiku nyaman bersamanya.
                   Arjuna merasakan perubahanku. Hati terbaca hati. Galau
              melanda  kami  berdua.  Apakah  melanjutkan  hubungan  atau
              tidak.  Arjuna  mulai  jarang  bertanya  kabar,  begitu  pun  aku.
              Melanjutkan  rutinitas  akan  melupakan  dia,  pikirku.  Tetapi,
              rindu  sebenarnya  semakin  menggelombang,  hanya  ditahan
              saja.  Entah  sampai  kapan  ini  akan  berlangsung.  Bisu  rasa
              antara kita.

                   September


                   Langit hitam menghampiri
                   September bulan air turun
                   Sebagian bahagia
                   Sebagian merenung
                   Akankah bahagia hadir
                   Dengan air yang ‘kan menyapa
                   Menunggu indahnya bunga bermekaran
                  Lahir tunas baru

                   Ya,  hingga  September  Arjuna  masih  belum  menyapaku
              lagi.  Aku  tetap  berjalan  menuju  tempat  kerja  yang  akan


                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 205
   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222