Page 213 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 213
Ketinggalan Songkok
Oleh: Puji Hastuti
M
endung menggelantung seakan tak menginginkan
matahari menyinari kampung tempat Nastuti
tinggal. Angin menerjang dedaunan hingga
berjatuhan, pertanda awal pergantian musim kemarau. Orang
tua hilir mudik mengantar anaknya untuk belajar mengaji.
Demikian juga dengan Nastuti, tetap memenuhi panggilan
hati untuk mengantarkan putra kesayangannya mengaji.
Maklumlah di kampung itu belum ada TPA yang resmi.
Setiap hari Nastuti mengantar anaknya bersama tetangga
mendatangi guru mengaji memperdalam ilmu agama. Untuk
sampai ke rumah sang guru harus melewati jembatan kayu
penyeberang sungai yang berjarak dua kilometer dari rumah
Nastuti. Memang tidak jauh jika melalui jalan tanpa
hambatan. Namun, kondisi jalan masih tanah liat, belum
tersentuh pembangunan.`
“Habibi, ayo lekas berangkat, keburu hujan.” Nastuti
memanggil anaknya.
“Ya, Bu,” jawab Habibi sambil mencari baju berwarna
salam model koko kesayanganya dan sarung kotak‐kotak
yang akan dikenakan.
Tidak lama Habibi dengan tubuh yang tinggi semampai
sudah berada di dekat ibunya. Kendaraan berjalan pelan.
Tiba‐tiba ranting pohon di sepanjang jalan patah tertimpa
angin. Suara kilat menyambar, angin menyapu debu yang
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 201

