Page 220 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 220

Elegi Jembatan Kembar

                                Oleh: Rian Ananta


             S
                   ore  begitu  mencekam.  Hujan  lebat  yang  sedari  tadi
                   mengguyur  Kota  Padang  membuat  air  Banda  Bakali
                   meluap  sampai  ke  bahu  jalan.  Dingin  terasa  menusuk
             tulang saat kudengar ketukan pintu.
                 “Bu, Ibu!”
                 Dengan rasa ingin tahu aku berdiri mendekati pintu dan
             bertanya, “Siapa di luar?”
                 “Aku, Bu, Jackly,” jawabnya.
                 Kubuka  pintu  dan  melihat  sosok  lelaki  yang  menggigil
             kedinginan.Titik‐titik  air  berjatuhan  dari  rambutnya.  Bibirnya
             menggigil,  memberikan  senyuman  kaku.  Kedua  tangannya
             bersedekap  memberikan  sebentuk  kehangatan  pada  tubuh
             yang bergetar tak beraturan.
                                         ***
                 Sejak  kejadian  itu,  dia  belajar  mengaji  padaku.  Tiga  hari
             berlalu, dia rutin datang. Hingga hari keempat dia tak muncul
             lagi. “Ke mana, Jackly ya?” tanyaku bingung.
                 Akhirnya  seminggu  kemudian  dia  datang  dengan
             bercerita  mengapa  tidak  bisa  menemuiku.  Dia  menolong
             orang tuanya berjualan. Aku merasa aneh dengan perubahan
             sikapnya.  Rasa  penasaran  itu  begitu  melangit.  Kuputuskan
             mengunjungi  rumah  Jackly  untuk  berkenalan  dengan  orang
             tuanya. Kutelepon Rossa, petugas sosial.
                 “Oke, Uni, besok pukul 10.00 kita ke rumahnya,” jawab
             Rosa.


             208 | 80 Cerpenis MediaGuru
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225