Page 224 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 224
menanyakan keadaannya. Namun Parlin sepertinya lupa,
bahwa dia memiliki seorang wanita istimewa.
Parlin mencoba berbicara dengan keadaan setengah dari
wajah dan tubuhnya yang sudah kaku. Bulir‐bulir air mata
menganak sungai, mengalir seolah menyampaikan pesan
memohon maaf kepada sang ibu. Mereka berdua saling
menangisi. Tak pernah tebersit dalam hati Nek Idah bahwa
Parlin akan kembali dirawatnya seperti saat bayi enam puluh
tahun yang lalu.
Hari demi hari dilalui oleh Parlin dan Nek Idah di gubuk
tua itu. Keluarga yang lain hanya bisa menjenguk dan
membantu sebisa mungkin. Ketika Nek Idah memutuskan
untuk merawat Parlin seorang diri, semua hanya bisa
membiarkannya. Di sudut kota yang sama, anak cucu Parlin
dan seorang wanita yang pernah mendampingi hidupnya
sedang tertawa bahagia menikmati hari‐hari yang sangat
indah.
Setelah kehadirannya, kehidupan Nek Idah berubah.
Malam menjadi siang dan siang menjadi malam baginya.
Tubuh mereka berdua yang sudah sama‐sama sepuh,
berusaha untuk tetap bertahan melewati sisa hari. Entah
berapa hari lagi yang tersisa, Nek Idah hanya bisa pasrah.
Parlin, seorang lelaki dewasa yang pernah menyakiti hati
istri dan anak‐anaknya. Dengan penghasilan pas‐pasan, tidak
merasa berdosa ketika membagi hati pada wanita lain.
Sehingga anak dan istrinya memutuskan untuk hidup tanpa
kasih sayang seorang ayah di usia perkawinan Parlin yang ke‐
15 tahun. Saat itu Sandi anaknya menginjak usia remaja.
212 | 80 Cerpenis MediaGuru

