Page 228 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 228
Hari‐hariku berubah, tiada lagi belajar daring. Jemariku
yang sudah terbiasa menekan tombol gawai mengantar tugas
di dunia maya, kini hilang sudah. Gawai bekas yang ayah beli
dari anak bosnya, kini tergadai menggantikan beras untuk
bertahan hidup.
***
Aku menyusuri jalan becek di sepanjang gang sempit,
berbatasan dengan tembok gedung pencakar langit. Hujan
turun sepanjang malam. Udara sangat dingin. Embun masih
bergelayut saat aku meninggalkan rumah mengais rezeki.
Mentari masih terlelap, enggan melepaskan selimutnya.
Berangkat lebih awal sengaja kulalukan untuk lebih
banyak menyusuri keramaian. Ransel lusuh berisi pakaian
badut yang akan kukenakan, tersandang kokoh di
punggungku. Ya, pakaian yang menjadi inspirasiku untuk
mengais rezeki agar bertahan hidup dalam menggapai mimpi.
“Assalamu’alaikum, Bu.” Aku pamit sambil mencium
tangan keriput ibu. Telapak tangannya kasar terpapar
detergen pembersih, setiap kali mencuci pakaian tetangga.
Ya, ibu menjadi buruh cuci untuk membantu biaya hidup
kami.
“Berangkat ke mana pagi ini, Nak?” tanya ibu ketika
mengantarku ke daun pintu yang hampir rubuh dimakan
rayap sembari menggendong adik bungsuku.
“Entahlah, Bu, mungkin ke arah Gatot Subroto, di
perempatan Plaza Medan Fair, ” jawabku sambil berlalu.
***
Mendekati tiga purnama lamanya aku sudah tidak belajar
daring lagi. Takdir membuatku harus gigih berjuang
216 | 80 Cerpenis MediaGuru

