Page 227 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 227

Nestapa Berbuah Cinta

                  Oleh: Rosmalinda Ika Kesumawaty Kembaren



              A
                      ku masih ingat saat bercengkerama bersama ayah di
                      kursi  bambu  buatan  tangannya.  Saat  mentari
                      sembunyi  di  balik  awan,  sebelum  ayah  pergi  untuk
              selamanya.
                  “Gimana sekolah mu, Nak?” tanya ayah.
                  “Aman,  Yah,  aku  belajar  daring.  Semua  tugas
              kuselesaikan  tepat  waktu,”  jawabku  dengan  tersenyum
              kepada ayah.
                  “Nilai ujian Jaka paling tinggi, Yah,” ibu menimpali.
                  Saat  obrolan  menjelang  malam  itu,  langit  sepi  tiada
              bintang  menyinari.  Kautitip  pesan  di  pundakku  yang  masih
              rapuh untuk kuat mengarungi hidup bersama ibu dan kedua
              adik.
                                          ***
                  Ayah  bekerja  sebagai  sopir  pribadi.  Setelah  sepekan
              mendampingi bosnya di luar kota, ayah terpapar virus covid‐
              19. Ayah harus diisolasi di sebuah rumah sakit di kotaku. Tak
              berselang  lama,  ayah  mengembuskan  napas  terakhir,
              meninggalkan kami semua.
                  Ayah    pergi   meninggalkan     nestapa    di   hatiku.
              Kepergiannya  tanpa  singgah di  rumah  kontrakan  sederhana
              tempat  kami  berkumpul.  Harapanku  menjadi  pengembang
              properti hanya tersimpan di sanubari.




                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 215
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232