Page 232 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 232
seperti "musang berbulu domba”. Hingga menjadi penyesalan
bagi Siti selama ini terlalu akrab dengannya. Ternyata ada
udang di balik batu, ada maunya.
“Benar‐benar terperangkap, demi orang lain sementara
diriku tersiksa.” Siti tidak tenang, pusing tujuh keliling.
Tidak punya perasaan, berbuat sekehendak hatinya.
Ketika anaknya yang biadab itu datang untuk menghardik
orang tuanya. Berbicara kotor di depannya. Astaghfirullah
memekakkan telinga dan menyesakkan dada. Ini penyebab
kakak ipar terlalu menyayangi dan mengikuti kemauan
anaknya.
Siti ingin sekali cepat terlepas dari masalah tamu tak
diundang, yang tidak punya perasaan sama sekali. Kalau
kurang akal bisa kita membimbing atau memakluminya. Tapi,
tamu ini benar‐benar tidak punya perasaan. Benar‐benar
wajah tanpa dosa. Seenaknya membangun kamar di rumah
Siti. Itulah yang membuat Siti kesal karena tamu itu diusir oleh
anaknya yang terjerumus narkoba.
“Kenapa pelariannya harus ke rumahku, harusnya cari
kontrakan saja.” Pikir Siti.
Uang puluhan juta yang baru diterima dari bank bisa
digunakan untuk membayar kontrakan. Agar terlepas dari
belenggu kemelut besar ini, kakak ipar bersembunyi dari
anaknya yang telah kecanduan narkoba.
Kalau menurut Siti lebih baik anaknya diserahkan saja
pada polisi. Polisi bisa mencarikan solusi terhadap anaknya
yang terjerumus narkoba. Daripada berlarut‐larut hingga
selalu mengusir orang tuanya. Jika selalu bertamu tentu tidak
220 | 80 Cerpenis MediaGuru

