Page 235 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 235
Rasaku tidak jauh berbeda dengan orang tuaku. Gayung
bersambut, saat pertama kali aku mengenalkan Mas Bhanu,
ayah dan bundaku tersenyum dengan manis sekali.
“Adel, Bunda tidak akan pernah menghalangi apa yang
sudah menjadi pilihanmu. Adel sendiri yang akan menjalani
hidup!” Dengan penuh kelembutan, bunda menyerahkan
sepenuhnya untuk pilihan hidupku kelak.
Keberterimaan ayah dan bunda membuat Mas Bhanu
bersemangat. Pujaan hatiku ingin sekali membuktikan bahwa
dirinya adalah pilihan tepat untuk menjadi pendamping
hidupku.
“Tidak ada kesempatan kedua, Adel.” Mas Bhanu
menatapku dengam penuh harap. Tawaran kerja dari
perusahaan asing didapatkan berkat prestasinya.
“Hanya dua tahun aku minta waktu. Setelah selesai
kontraknya aku akan meminangmu,” janjinya.
“Andai saja peluang untuk mendapatkan pekerjaan di
negara sendiri, mungkin bukan halangan,” pikirku. Perasaan
berat akhirnya dikesampingkan. Benar kata Mas Bhanu
bahwa pilihannya adalah untuk masa depanku juga.
Musim berganti. Tak ada yang bisa memastikan apa yang
akan terjadi pada masa di penghadapan. Pada awalnya,
komunikasi berjalan seperti yang diharapkan. Sapaan
merdunya seakan dia tetap berada dekat di sampingku.
Namun, kesibukan yang menjadi alasan membuat Mas Bhanu
semakin jarang mengucap salam rindunya.
Dua tahun telah berlalu. Kontrak kerjanya ternyata
diperpanjang. Ayah dan bundaku mulai mempertanyakan
kepastian hubunganku dengan Mas Bhanu. “Sampai kapan
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 223

