Page 240 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 240
"Aaaah!" Kau dengar itu? Teriakan Sulung yang
membahana. Memecah sunyi di ujung dusun yang sudah
tidak utuh lagi. Ya, dusun kini kian sepi, hamparan beton yang
mengganti hijaunya ladang dan tegalan membuat sebagian
besar sanak dan karib memilih menyingkir. Hijrah berjemaah
ke tempat yang baru.
Sanak karib yang biasa bederma, kini telah jauh di mata.
Aku pun mengais rezeki dari aroma busuk tumpukan sampah
pasar di seberang jalan. Hasil yang tak seberapa, tetap
memaksaku setia demi bertahan sebelum tiba menutup mata.
Aku ingin berteriak. Mencaci takdir yang tak berpihak.
Memaki nasib yang tak adil. Astagfirullah. Dalam diam kamu
masih mampu menyadarkan aku. Dalam bisu kamu masih
mengingatkan aku. Bahwasanya tak ada kekuatan yang
menggerakkan setiap perjalanan hidup selain kekuatan
Pemilik Jagat dan Seisinya, Pemberi dari semua yang
menderma.
Sayang, aku sudahi cerita sore ini. Aku dengar lagi
teriakan si Sulung. Mungkin dia sudah tak tahan, cacing di
perutnya pasti sedang berlarian.
**
Aku pandangi si Sulung penuh iba. Lebih dari separuh
abad sudah aku lalui bersamanya dalam kesendirian yang
abadi. Kuasa‐Nya, dia hadir dari rahimku yang diberi kekuatan
dalam separuh jiwa sejak kamu menghadap ke haribaan‐Nya
dan tak mungkin kembali.
“Sulung, jika Umi pergi nanti bersama siapa kamu akan
berbagi marah dan kecewamu?” Sulung hanya mematung,
228 | 80 Cerpenis MediaGuru

