Page 241 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 241
sesekali menyeringai mempertontonkan barisan giginya yang
sejak pagi tidak tersentuh pasta gigi.
“Sulung, jawablah Umi!” Bisu dalam sepi.
Malam kian merayap. Sang dewi malam pun menghiasi
lukisan cakrawala. Akhirnya, kantuk tak dapat dihindari.
Fajar belumlah tiba. Tertatih‐tatih aku menaiki anak
tangga. Semakin ke atas hingga di puncak jembatan
penyeberangan orang. Bersisa satu ruas jalanan padat,
hingga tiba di tempat mengais rezeki. Tetiba saja, brak!
tubuhku oleng hingga tersungkur mencium permadani beton
yang pekat, sepekat alam dalam netraku. Sempat terdengar
jeritan klakson bersahutan. Setelahnya sepi.
Tetiba saja kamu datang menyambutku. Harum kasturi.
Aroma surgawi mengiringi langkah kita yang beriringan di
atas jembatan kaca yang elok. Akhirnya, kini aku telah berada
di pelukanmu.
“Sulung maafkan Umi, tak bisa menemanimu lagi.”
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 229

