Page 244 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 244
sekadar melepaskan lelah. Kakinya diselonjorkan sambil
mengibas‐ngibaskan jariknya. Butiran bening mengalir dari
tubuhnya yang renta. Embusan napas yang tak lagi beraturan,
membuat perjalanan tak bisa lagi dilanjutkan. Kepalanya
disandarkan di tiang musala. Berusaha memejamkan matanya
yang sedari tadi sudah minta dikatupkan. Tubuh ringkih
digoyang‐goyangkan berharap asupan tenaga. Angin sepoi
membuatnya sumringah. Sedikit asanya kembali membuncah.
Pasar Songgo Langit riuh oleh hiruk pikuk pedagang yang
lalu lalang, belum lagi suara mereka yang bersahutan
menawarkan dagangannya. Mbah Rinah berhenti di depan
pedagang bumbu dapur. Matanya tertuju pada onggokan
cabe. Lekat dia melihat, perlahan mengulurkan tangan untuk
sekadar menyentuhnya. Hampir tiga bulan tak pernah lagi
merasakan pedasnya cabe.
“Hei, jangan dipegang kalau tidak membeli!” Wanita
tambun penjual cabe itu menghardiknya dengan suara keras.
Mbah Rinah tersadar dengan apa yang telah
dilakukannya. Dengan tubuh gemetar, ditinggalkan pedagang
itu. Belum lagi detak jantungnya normal. Wanita tambun,
pedagang cabe itu, memanggilnya. Sambil tangannya
menarik buntilan Mbah Rinah.
“Kamu maling ya, buka buntilan ini!”
“Tidak,” jawab Mbah Rinah.
Kini detak jantungnya lebih cepat. Tangan wanita itu
menarik paksa buntilan Mbah Rinah. Buntilan itu terlepas.
Mbah Rinah memelas, baginya isi buntilan itu adalah
kehidupan. Orang‐orang hanya melihat saja, tak ada yang
berani mendekat. Tubuh ringkihnya terpelanting di genangan
232 | 80 Cerpenis MediaGuru

