Page 248 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 248

Namun,  bunda  tak  pernah  menjelaskan.  Nek  Ipah  melarang
             bunda menjelaskan apa pun tentang ayah.
                  "Ayah  pergi  bukan  karena  kesalahannya,"  ucap  bunda
             seraya merenggangkan pelukan, “tapi juga bukan kesalahan
             Bunda.”
                 Perang dingin tanpa badai berkecamuk dalam pikiranku.
             Mengapa  bunda  dan  ayah  hidup  tepisah.  Namun  aku  tak
             lancang bertanya. Aku hanya berharap suatu saat bisa hanyut
             dalam dekapan kasih ayah dan bunda.
                 Aku  mulai  berpikir,  ayah  dan  bunda  tidak  saling
             membenci.  Namun,  keegoisan  Nek  Ipah  telah  memisahkan
             dua cinta yang entah kapan bisa disatukan. Aku harus menjadi
             kuda bersayap agar dapat menyandingkan kembali cinta ayah
             dan bunda.
                 Tiba‐tiba Pak Pos berhenti di depan rumah, menyerahkan
             amplop.  Bunda  menerima  dengan  bahagia.  Namun  belum
             sempat    dibuka,   Nek   Ipah    telah   menyambar     dan

             membawanya.  Aku  dan  bunda  hanya  mengelus  dada
             menyaksikan kelakuan Nek Ipah.
                 "Ayu,  masuklah,  kita  makan."  Ajak  bunda  sambil
             menggandengku.
                 Aku pun mengikuti langkah bunda. Namun, begitu masuk
             langkahku terhenti. Kulihat sobekan amplop di bawah meja.
             Rupanya  Nek  Ipah  lupa  membuangnya.  Aku  segera
             memungut  dan  menyimpan  di  kantong  baju.  Lalu
             melanjutkan langkah ke dapur untuk makan bersama bunda.
                 Nek Ipah memandang sembab wajahku. Aku menunduk,
             tiba‐tiba selera makanku hilang. Nasi yang dikunyah tak dapat
             kutelan, tertahan oleh rasa kecewa yang kupendam.


             236 | 80 Cerpenis MediaGuru
   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253