Page 247 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 247

Menyemai Rindu

                             Oleh: Siti Jamiatu Sholihah



              T
                    ercabik  rasa  hatiku  ketika  melihat  teman  lewat  di
                    depan selasar rumah mengenakan seragam putih biru
                    sambil membawa peralatan sekolah. Tiba‐tiba batinku
              menyeruak  selaksa  rindu  yang  entah  kepada  siapa  harus
              kutautkan.  Patahnya  sayap  harapan  memaksaku  menerima
              perjalanan  takdir  hidup  yang  kulalui  bersama  bunda,  tanpa
              limpahan  kasih  ayah.  Aku  tahu  Nek  Ipah  sangat  membenci
              ayah, walau perhatian ayah tak pernah telat setiap bulannya.
              Aku  tidak  mengerti  ketiadaan  ayah menyemai  kuncup  rindu
              yang kian mekar, melahirkan banyak tanya tentang ayah.
                  “Ayah,  Ayu  ingin  sekolah.”  Batinku  seraya  menatap
              kembali  punggung  teman  berseragam  hingga  hilang  dari
              pandangan.
                  Tanpa  disadari  pipiku  telah  basah  oleh  tetesan  embun
              dari  netra  yang  tak  kuasa  kubendung,  menenggelamkan
              segala  khayal.  Dalam  bayanganku,  betapa  indah  berada
              dalam  dunia  sekolah.  Bercengkerama  bersama  teman,
              mengeja,  dan  merangkai  kata.  Merenda  kisah  tentang
              mimpiku dalam lembaran‐lembaran diari biru.
                   Khayalku terhenti ketika mendapati bunda telah berdiri
              di  sampingku,  memeluk  penuh  kasih.  Isak  tangisku  tak
              bersuara,  tapi  menghujam  kalbu  bunda  yang  paling  dalam.
              Bunda  tahu  karena  aku  sering  bertanya  tentang  ayah.




                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 235
   242   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252