Page 249 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 249
“Andai ayah ada di dekatku sekarang, mungkin hidupku
tak seperti ini.” Batinku.
Aku melihat amplop tadi. Terbaca tulisan Jalan
Plamboyan Nomor 5 Sukadana, Kab. Garut. Kusalin alamat
tersebut sambil berpikir, betapa malangnya hidupku, bagai
burung yang patah kedua sayapnya. Terpisahkan samudera
yang selalu memainkan gelombang perasaanku.
Dalam embusan sang bayu, semburat purnama menyisir
jendela yang sengaja kubuka. Berharap menemani meronce
impian untuk bertemu ayah. Di keheningan malam itu, aku
menyemai kerinduan melalui goresan pena yang nyaris tak
terbaca oleh buncahan air mataku.
Ayah,
Andai kau dengar deburan gelombang pasang
Yakinkan aku akan datang
Andai gelombang berhenti pasang
Jemput aku di pelataran
Namun, jika badai mengempas gelombang
Rindukan aku dalam khayalan
dengan selaksa rindu menggiring mimpi
bertemu ayah yang lama kunanti
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 237

