Page 251 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 251
Cinta Habibah
Oleh: Siti Masrifah
S
enja mulai temaram, sinarnya redup di antara ranting
pepohonan. Embusan angin seolah mengajak daun‐
daun yang berguguran untuk berlari dan berkejaran.
Sesekali terdengar suara burung derkuku yang sendu.
Menambah syahdu hati yang merindu.
Lebih dari satu jam Cinta duduk termenung. Tatapannya
kosong menyapu keluar jendela. Pandangannya terhenti pada
surya yang mulai beranjak ke peraduannya. Sejenak dia
merawi helai daun yang berguguran satu persatu karena sang
bayu memaksa berpisah dengan rantingnya. Tapi, Cinta
mengetahui daun itu tetap tangguh dan tak pernah marah
pada angin. Tidak seperti dirinya yang kini sedang rapuh.
Kursi yang menopang tubuh rampingnya masih setia
bergoyang, terus bergerak mengayun si empunya. Bahkan
posisinya tak pernah berpindah, tetap di sana. Dekat jendela
kamar menghadap ke arah matahari terbenam, bersebelahan
dengan meja oval. Di atasnya terlihat foto sepasang
pengantin berbingkai figura putih tulang. Senada dengan
warna meja dan tirai jendela.
Entahlah, Cinta merasa tempat itu adalah tempat
terindah baginya. Tempat paling nyaman untuk menikmati
semua kenangan. Tempat yang bisa membawanya pergi dari
hingar‐bingar keramaian. Karena Cinta tahu, di sinilah
semuanya berawal dan berakhir.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 239

