Page 255 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 255

Sejak  saat  itu  kureguk  kasih  yang  manis  bersama  Anisa
              hingga  aku  melamarnya  menjadi  istriku.  Apa  karena  aku
              terlalu cinta, hingga tidak bisa membaca jika cinta Anisa tidak
              tulus? Entahlah. Menyesal pun tiada gunanya.
                  "Zal, sudah dua tahun kamu sadar dari koma dan selama
              itu  kamu  belum  bangkit  dari  keterpurukan.  Perjalanan
              hidupmu masih panjang. Lupakan Anisa,” ucap bunda waktu
              itu, ketika kami duduk santai di teras belakang.
                  “Bagaimana  mungkin  aku  melupakan  Anisa,  Bun.  Kedua
              anakku  ikut  bersamanya,”  jawabku  lirih  sambil  menatap
              bunda yang juga menatapku iba.
                  “Kamu jangan patah semangat, Zal. Ketika dewasa nanti,
              Riko dan Rani pasti akan mencarimu, ayahnya.”
                  Ucapan  bunda  benar,  aku  harus  memulai  usaha  dari  nol
              lagi.  Biarlah  waktu  yang  akan  mempertemukan  kembali
              dengan  buah  hatiku.  Seperti  malam  menghapus  siang,  aku
              memulai  langkah  menghapus  jejak  Anisa  di  hatiku.  Bangkit

              dengan  suntikan  semangat  dari  bunda  yang  mencintaiku.
              Tekad  yang  kuat,  memudahkan  aku  angkat  kaki  dari
              keterpurukan,  meski  sisa  cinta  untuk  Anisa  masih  tersemat
              indah di sanubari.
                  Perlahan  namun  pasti,  usaha  garmen  yang  dulu  sempat
              bangkrut  karena  aku  koma,  kini  mulai  berkembang.  Jabatan
              direktur  kembali  kududuki  tentunya  dengan  seorang
              sekretaris yang cantik. Tapi, kecantikan tidak lagi membuatku
              terpesona.  Ya,  aku  berubah  menjadi  pribadi  yang  tidak  lagi
              ramah pada perempuan.
                  Malam itu, bunda mendesakku untuk menikah lagi, ketika
              kami menikmati indahnya sore di taman belakang rumah.


                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 243
   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260