Page 243 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 243
Buntilan Mbah Rinah
Oleh: Siti Irmani Kasan
H
angatnya mentari pagi belum lagi menyapa, Mbah
Rinah sudah keluar dari tempat tinggalnya yang tak
layak lagi untuk dihuni. Tepatnya di belakang sebuah
pabrik tekstil. Suara deru mesin yang memekakkan telinga
adalah hal yang biasa didengarnya. Tapi, semua harus
dinikmatinya. Selama pandemi covid‐19 Mbah Rinah harus
bersabar. Dia hanya makan nasi yang dicampur garam dan
sisa minyak goreng, cukup mengganjal rasa lapar. Terkadang
hanya makan nasi aking. Walaupun begitu tak membuatnya
putus asa.
Menurutnya, kemiskinan adalah pil pahit yang harus
ditelan. Kegigihanlah yang membuatnya enggan menjadi
pengemis. Baginya, memberi lebih baik daripada meminta.
Menunggu uluran tangan dari pemilik pabrik juga tak
didapatkan. Mereka seolah menutup mata dan telinga
sehingga tak bisa melihat dan mendengar jeritan lara Mbah
Rinah.
Mbah Rinah yang jalannya mulai tertatih‐tatih,
menembus gelap untuk pergi ke pasar. Berharap Allah akan
memberikan rezeki. Hanya suara jangkrik yang selalu
menemani perjalanan Mbah Rinah. Sesekali mengalungkan
jarik bututnya dan berhenti membetulkan sandal yang sudah
enggan untuk diajak kompromi. Ketika raganya menjerit,
disempatkan untuk singgah di musala kecil di ujung gang,
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 231

