Page 239 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 239

Rencam di Kala Senja

                                   Oleh: Siti Aisah



              L
                    embayung  tiba  menggantung.  Merah  jingga  rupanya
                    indah nan elok. Tetapi, tak seperti keadaan diriku, yang
                    setiap waktu dirundung pilu.
                  Aku bersimpuh di depan gundukan tanah yang telah lama
              menjadi  nirwana  sucimu.  Tak  ingin  beranjak  pergi,  walau
              penat  dan  kebas  mengganggu.  Kutumpahkan  segala  rasa
              yang  menikam  hati.  Teringat  ikrar  untuk  tetap  bersama,
              hingga  tubuh  tak  tegak  lagi.  Akan  tetapi,  malang  tak  boleh
              ditolak, mujur tak boleh diraih. Nyatanya, tak dapat bersama
              hingga ujung senja.
                  Di sana pasti kamu saksikan pilu yang hampir setiap saat
              menderaku.    Mahkota     putihku,   keriput   pembungkus
              dagingku. Bahkan, netraku yang sudah tak awas lagi tetap tak
              mengurangi tanggungan yang harus aku pikul tanpa dirimu.
                  Sukmaku pilu, ragaku hampa tatkala pundak ini semakin
              memberat  karena  tanggungan  yang  kian  berbobot.  Pikulan
              pun semakin berisi. Sulung yang istimewa kian hari sulit untuk
              dikendalikan.
                  Sulung, tidakkah kau lihat Umi sungguh sudah tak kuat.
              Bisakah kauberi sejenak waktu untuk rehat. Bisakah engkau
              tegak di atas kedua kakimu, seperti tampak pada adindamu.
              Sulung maafkan Umi, sebenarnya ingin sekali menjauh berlari.
              Apalah daya karena renta sehingga tak kuasa.




                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 227
   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244