Page 236 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 236
kamu akan menunggu? Perempuan perlu kepastian!” tandas
bundaku.
“Cinta bagai benih yang kautanam. Harus kaurawat biar
terus tumbuh. Sekarang apa yang kauharapkan dari Bhanu‐
mu itu? Semakin jarang selulermu berbunyi!” rangkaian kata‐
kata ayahku semakin mengingatkan usiaku yang terus
berkurang.
Kehadiran Kang Aji putra teman ayahku kucoba untuk
dijadikan alasan mengingatkan janji Mas Bhanu. Saat itu, Mas
Bhanu masih menenangkanku. Harapan yang diberikannya
memberanikanku untuk Mas Bhanu menentukan pilihan.
“Putus atau terus?” Tak ada jawaban dari seberang sana.
Mas Bhanu malahan mematikan selulernya.
“Apa salahnya untuk pulang dulu menepati janji kalau
memang dia serius?” Pertanyaan ayah semakin
memojokkanku.
Kataku terkunci. Pandanganku jauh ke luar sana. Kulihat
pepohonan mulai meranggas. Tanah pun mulai retak.
Kemarau telah membuat semuanya kaku. Angin kering
berembus membuat suasana semakin panas.
Di sudut ruang tamu itu aku membisu menerima
kedatangan keluarga Kang Aji. Tiba giliranku untuk berserah
diri mengikuti kehendak ayah bundaku. Tanggal
pernikahanku telah dipilihnya. Menunggu musim kerontang
berlalu.
“Sama‐sama orang Pasundan lebih memudahkan
mengolah rasa. Satu pemikiran, satu pandangan, satu
kebiasaan membuat hidup lebih mudah dijalani.” Ibuku
meyakinkan pilihannya.
224 | 80 Cerpenis MediaGuru

