Page 231 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 231
Luka Tak Berdarah
Oleh: Satriwarni
L angit sore begitu indah, awan berarak membuat
matahari berseri. Tampak seorang wanita mengendarai
sepeda motor kusam. Tidak biasanya dia datang sendiri.
“Mama, kenapa sendirian. Paman mana?” tanya Aida
heran.
“Biasanya selalu bersama abang?” tanya Siti.
Wanita tersebut membawa sebuah tas kecil. Senyum
manis terlihat dari wajahnya. Kakak Ipar Siti belum
menceritakan kalau dia diusir oleh anaknya.
Pada awalnya Siti biasa saja, melayani seperti tamu
istimewa. Justru melayani seperti tamu inilah yang menyiksa
batin Siti setiap hari. Pikirannya menjadi tidak tenang, tidak
konsentrasi dalam melakukan pekerjaan. Pikirannya menjadi
tidak karuan. Rasanya Siti mau lari saja untuk menghindar dari
kakak iparnya. Sudah 10 hari sejak kejadian itu.
Tebal muka juga kakak iparnya dengan bahasa isyarat.
Tapi tak mampu meluluhkan hatinya. Siti tidak ingin
seandainya bertengkar dengan suaminya, tapi kakak iparlah
penyebabnya.
Ibarat menggenggam bara di rumah ini. Siti yang punya
rumah, tapi kenapa orang lain yang datang berkuasa. Mungkin
ini juga penyebab air mata buaya kakak iparnya.
Pernah suatu hari dia menangis di depan Siti. Air mata
buayanya itulah yang membuat Siti terhipnotis . Benar‐benar
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 219

