Page 229 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 229

mengemban pesan ayah. Kupandangi wajah ibu yang sedang
              menggendong  adik.  Wajah  yang  lebih  tua  dari  usianya.
              Kerutan  semakin  jelas.  Raihan,  adikku,  yang  berusia  dua
              tahun  tak  mau  lepas  dari  ibu.  Raihan  hanya  mau  bersama
              Intan,  adik  keduaku,  saat  ibu  mencuci  ke  rumah  tetangga.
              Namun,  tak  bertahan  lama,  Raihan  akan  menangis  mencari
              ibu.
                  “Ibu,  biarkan  aku  bekerja.  Kita  tak  mungkin  bertahan
              dengan keadaan seperti ini lagi.” Aku mendesak ibu, setelah
              tiga purnama ayah berada di alam yang berbeda.
                  Kususuri  keramaian,  menari  sesuai  lagu  yang  kuhafal.
              Kaki  kuhentakkan  dan  tangan  bergoyang.  Tak  lupa  pakaian
              badut kukenakan. Yang kuinginkan mereka tertawa bahagia
              melihat  tingkah  polahku  dan  berkenan  mengeluarkan
              recehan.  Tubuh  lelah  kuabaikan.  Aku  terus  berjalan
              menggapai harapan. Berharap hari ini akan membawa rezeki
              pulang ke rumah.

                  “Ayah, aku akan menjaga mereka. Berjuang untuk sebuah
              cinta yang kudamba. Tersenyumlah kau di sana,” ucapku lirih.




















                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 217
   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234