Page 225 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 225

Sebagai  anak,  Parlin  juga  terlalu  mengabaikan  ibunya.
              Walau  tidak  menyakiti, namun  melukai dengan  membiarkan
              sang  ibu  merindukan  kehadirannya.  Jangankan  untuk
              menanyakan kebutuhan sang ibu, bertanya kabar saja sangat
              jarang. Parlin terlalu terlena dengan kehidupan dunia fana.
                   Kini Parlin tak berdaya. Mengurus diri sendiri saja pun dia
              sudah tidak mampu. Lagi‐lagi samudera kasih sayang seorang
              ibulah  yang  setia  menemaninya.  Teman‐teman  yang
              dibanggakannya dahulu hampir tidak peduli.
                   “Pa,  mohon  maaf,  Sandi  tidak  bisa  mengurus,  Papa,”
              ucap anak Parlin tertua.
                   Lewat  telepon,  Nek  Idah  berhasil  membujuk  cucunya
              untuk  menjenguk  sang  ayah.  Beberapa  hari  terakhir,  Parlin
              menggigau setiap malam. Memanggil nama Sandi. Nek Idah
              merasa  kehadiran  Sandi  mungkin  bisa  sedikit  mengobati
              penyakit Sandi.
                   Hanya  sekitar  lima  menit,  Sandi  pun  pergi.  Nek  Idah

              kembali  terluka,  melihat  sang  anak  menangis  mengutuk
              dirinya  sendiri.  Parlin  sangat  terpukul,  mendengar  kalimat
              Sandi. Namun Nek Idah lagi‐lagi menjadi pelipur lara baginya.
              Benar  kata  mereka,  bahwa  cinta  dan  kasih  sayang  seorang
              ibu sungguh tidak berbatas.














                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 213
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230