Page 223 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 223
Wanita Senja
Oleh: Rizka Khairani Hasibuan
T
erik mentari siang itu tak menyurutkan semangat Nek
Idah. Dengan langkah berat, dia terus melayani
pelangganannya. Warung minyak di depan rumah
tetap setia ditungguinya sepanjang hari. Di usia senja
menjelang delapan puluh tahun, dia tetap semangat mengais
rezeki dengan keringatnya sendiri.
“Pelan‐pelan, ayo angkat,” celetuk seorang lelaki di
belakang Nek Idah.
Nek Idah menoleh ke belakang, dilihatnya tubuh Parlin,
anak tertuanya, sedang digotong oleh beberapa lelaki. Nek
Idah bangkit dengan tertatih‐tatih dan mendekati kerumunan
itu.
“Astaga, Parlin kamu kenapa, Nak?” tanyanya dengan
histeris.
Tubuh Parlin dibawa masuk dan diletakkan di atas dipan
di dalam rumah. Salah satu dari lelaki itu menceritakan bahwa
Parlin diserang strok. Karena di rumahnya tidak ada yang
mengurus, tetangga memutuskan untuk membawa Parlin ke
sini.
Setelah mereka pergi, Nek Idah menangisi Parlin. Sebagai
wanita yang melahirkannya, Nek Idah sering dibiarkan
merindu. Padahal mereka masih berada di satu kota. Hampir
tiap menanti Parlin, anak kebanggaannya, datang menjenguk,
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 211

