Page 63 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 63

Nay

                                   Oleh: Dianawati


                Esok, kita sepasang cangkir dan kopi dalam adukan sendok
               kayu menjelang senja. Disaksikan bunga edelweis dan desiran
              angin. Kisahku menyimpan lara dan kusisakan kopi pahit dalam
                cangkir ini, agar dia tak akan lupa jejak kakinya yang sudah
                                   mengotori tapihku.

              D       ia  datang.  Putung  tembakau  itu  kumatikan.  Sebuah

                      permen  mint  sudah  mengelana  di  dalam  rongga
                      mulutku.  Membuang  jauh  khayalanku  “nyethe”.  Dia
              datang  bersama  perempuan  itu  lagi.  Hmm,  emosiku
              memuncak.  Penampilan  maksimal  supaya  terlihat  manis
              buyar karena ada bunglon betina yang menempel.
                  “Kampret!” umpatku.
                  Di  Wing’O  kafé  bandara  kota  pahlawan  ini,  niatku
              mengantar  Ray  terbang  ke  Kota  Singa  dalam  tugas  belajar
              bahasa Mandarin terganggu olehnya.
                   “Nangis tuh dia,” sahut Dewiq jealousy lihat tingkahku.
                  ”Udah Nay, ngapain ah, pakai nangis! Gak biasanya,” kata
              Ray menghibur.
                   “Nyesek tahu, ngga!” Mewek saat Ray mencium kening
              dan memelukku erat.
                  Dewiq  memandang  iri  seakan  ingin  mencegat  Ray.  Ia
              bergumul  dengan  hati  dan  persahabatan. Ray  kembali
              memberi kecupan mesra pada bibir dan sukses membuatku




                                  Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 51
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68