Page 64 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 64
mematung, tak bergeming. Jantungku berdetak hebat. Oh,
my God!
“Sorry,” ucap Ray melihatku tak bereaksi sama sekali.
“Dikit nggak apa‐apa ya? Sekali saja. Aku rindu kamu
selalu!”
“Jangankan dikit, banyak pun kukasih.” Otakku mulai
nakal berimajinasi liar.
“Nay, perlu ditinggal nih pacarmu. Jadi berangkat tidak?”
tanya Dewiq seolah memberi kode padaku dan sindiran halus
pada Ray. Aku tersadar sampai kuntum kesepian meluas.
Menghapus jarak dan bahasa. Seiring waktu merangkak
menjadi kenyataan. Pupus.
Dua belas purnama pun berlalu. Suasana di laboratorium
bengkel otomotif.
“Siapa?” tanya Juna saat membenahi baju praktiknya.
“Marjuki? Juki? Cowok rambut kribo dan bibir plus itu
ya,” lanjutnya tersenyum simpul dan memandangku penuh
selidik.
“Aku lihat dia tengah malam di panggung terbuka
bersama anak jurusan seni tari. Berduaan sama cewek, Nay!”
nadanya meninggi.
“Ngapain coba? Eh, Abi juga lihat mereka berdua lagi
asyik.” Juna mengelus dada.
“Apa? Beneran, Jun? Tenan?" Mataku melotot, bibirku
kelu dan serasa gelap.
"Iya! Demi, demi Gusti Allah," Juna kali ini sungguh‐
sungguh.
Mataku berkunang‐kunang. Kepalaku berat sekali
disangga. Samar‐samar teriakan Juna menopang tubuhku
52 | 80 Cerpenis MediaGuru

