Page 68 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 68
gorengan yang disajikan oleh istriku, tak luput menemani
latihanku malam ini.
“Kopinya, Pakne, diminum dulu nanti keburu dingin,” ujar
istriku.
“Ya, taruh situ aja, Bune,” jawabku sekenanya.
Aku masih asyik membolak‐balik partitur yang tak lagi
mulus dan sehalus sutra. Bak kitab suci, partitur ini
merupakan salah satu gaman yang harus ada dalam hidupku.
Aku sangat menyukai aroma lusuh nan usang dari semua
partitur yang sudah lecek.
Teman hidupku tak henti‐hentinya menasihati untuk
selalu menjaga kesehatan. Bukan karena kepedulian padaku
semata, tapi dia lebih peduli jika asap dapur tidak dapat
mengepul. Apalagi untuk biaya sekolah anakku, Panji.
Baginya, aku dilarang sakit karena tidak akan ada anggaran
rutin kesehatan dalam keluarga.
***
Kurang lebih satu musim kulewati tanpa melantunkan
kidung di tengah gemerlap lampu dan dentum sound system
di atas 90 desibel. Peran yang harus kulakoni serasa palsu di
atas panggung. Namun, dari situlah aku bisa bertahan
mengais rejeki demi anak dan istri. Aku berharap banyak
dermawan yang sengaja menyedekahkan sebagian
pendapatannya untukku dan Sanggar Karawitan di bawah
pimpinan Pak Warno.
Serentetan pertanyaan terlontar dari bibir mungil istriku.
Bak mesiu yang siap untuk memberondong pihak musuh.
Sudah lama tak kulihat sumringah di paras cantiknya. Rupanya
jajaran Pahlawan Pattimura bawa parang siap untuk menebas
56 | 80 Cerpenis MediaGuru

