Page 69 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 69
apa pun yang melintas memenuhi isi dompet. Sementara
lembaran warna merah Pak Soekarna‐Hatta sudah melayang
entah ke mana.
“Wes, ora usah kakehan cangkem, Bune, aku wes paham.
Memang kahanan masih begini, trus aku kudu piye maneh to,
Bune?” tanyaku pada istri.
Kami sering beradu argumen tentang lakone urip. Justru
hal itulah yang membuat kami makin mesra. Bahkan Sang
Semesta pun turut merasakan.
“Aku sibuk latihan karena besok ada jadwal pementasan
secara virtual bareng Pak Warno, nanti akan diunggah di
channel YouTube. Semoga saja banyak yang like, subscibe, dan
koment.” Ceritaku siang itu kepada istri.
“Lha, terus gimana cara dapat duitnya, Pak?”
“Yo embuh, Bune, aku aja tidak tahu. Besok coba tanya
Pak Warno saja.”
“Pakne ini lho sok‐sokan, Bune kira Pakne tahu
bagaimana cara mendapatkan uang dari YouTube.”
“Berarti kayak artis‐artis itu yo, Pakne?”
“Iyo.”
“Lha trus, Pakne itu duitnya gede atau tidak?”
“Yo, embuhlah, Bune, sampeyan kok cerewet banget.
Tadi ‘kan sudah aku bilang, besok tanya Pak Warno saja,”
jawabku sambil menahan napas yang sedari tadi tertahan di
dada.
“Semoga pageblug ini segera berakhir ya, Pakne,
sehingga keadaan bisa kembali seperti semula. Kayak dulu
lagi, Pakne dipanggil buat manggung di hajatan, terus dapet
saweran, ‘kan lumayan buat nambah‐nambah.”
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 57

