Page 74 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 74
“Seharusnya bukan aku yang mengganti paling banyak,
Pak,” ucapku, “bagaimana kami mendapatkan uang sebanyak
itu? Lagi pula bukan aku yang bersalah, Pak.”
“Tadi kami sudah mendengar ceritanya dari Devi. Dia
akan membayar denda dengan mencicil. Sekarang Nur bisa
menceritakan kembali pada kami bagaimana kamera itu bisa
rusak,” kata Pak Narwi.
“Setelah selesai kegiatan lomba class meeting, semua
siswa dipulangkan seperti biasa. Tetapi kami merencanakan
mencari objek foto yang berbeda. Kami ingin bersenang‐
senang dulu dengan pergi ke tempat wisata, Karang Jahe
tujuan kami. Lokasi di sana sangat bagus untuk berfoto.
Berangkatlah kami berempat ke Karang Jahe. Aku boncengan
sepeda motor dengan Devi untuk berangkat duluan, karena
Dirra akan menjemput temannya. Setengah perjalanan ada
perasaan tidak enak, seperti ada yang salah, tapi hanya
kupendam dalam hati. Sesekali kutengok ke belakang
mungkin ada bayangan temanku segera menyusul.
Kusarankan Devi untuk melambatkan sepeda motornya.
Hatiku menduga‐duga, apakah dia takut kalau ada operasi
polisi. Waktu itu aku ikut‐ikutan merasa dongkol, terpengaruh
Devi yang menggerutu karena belum melihat Dirra. Tiba‐tiba
ada pengendara lain yang mengatakan kalau teman kami
terjatuh,“ tuturku.
“Kami berhenti berusaha untuk menolong Dirra. Kami
bersyukur Dirra tidak apa‐apa, hanya kakinya yang cedera
sehingga jalannya agak pincang. Siangnya Dirra meneleponku
minta iuran untuk membayar denda kamera yang rusak. Jadi,
62 | 80 Cerpenis MediaGuru

