Page 79 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 79

Air Pancuran

                             Oleh: Endang Murtiningsih



              E
                    mbusan  angin  dari  pepohonan  terdengar  riuh.
                    Diselingi  suara  katak  bertalu‐talu  bagaikan  alunan
                    musik  yang  meramaikan  suasana  sunyi  di  daerah
              pegunungan Desa Taruna. Gadis kecil, Rita, terlelap dan tak
              terusik  sedikit  pun  dengan  situasi  yang  terjadi  di  luar  sana.
              Bahkan  suara  katak  dan  embusan  angin  malam  dirasakan
              sebagai pengiring tidurnya yang lelap.
                  Di  ufuk  timur  mentari  menampakkan  diri  menunjukkan
              datangnya fajar. Suara azan bersahut‐sahutan memberi tanda
              waktu  subuh  telah  tiba.  Tampak  beberapa  orang  berjalan
              menuju masjid melaksanakan salat Subuh berjamaah, dengan
              harapan  Allah  SWT  memberikan  kebahagiaan  dunia  dan
              akhirat .
                  Nenek  Ijah  membangunkan  Rita,  cucu  kesayangannya.
              Dipeluk dan diciumnya kening Rita dengan penuh kasih. ”Rita,
              ayo bangun, segera salat Subuh.”
                  Digendongnya Rita menuju pancuran di samping rumah.
              Pancuran adalah aliran air yang terbuat dari bambu, besi, atau
              plastik yang diletakkan dengan ketinggian tertentu. Kalau di
              desa  biasanya  menggunakan  bambu.  Air  dialirkan  ke  dalam
              bambu yang bisa mengguyur seluruh tubuh.
                  Rita  mandi  di  bawah  pancuran  yang  menyegarkan.  Air
              pancuran terasa dingin, tapi menyegarkan. Mandi di pancuran
              adalah  kesukaan  Rita.  Air  jernih  mengguyur  tubuhnya  yang


                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 67
   74   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84