Page 77 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 77

“Ini  silakan  diminum.”  Tarisa  meletakkan  segelas  air
              minum di meja.
                  “Terima kasih.“
                  “Rumahmu di mana?”
                  “Sekarsari, Bu.”
                  “Oo, kamu orang sini juga, rumahmu sebelah mana?”
                  “Sebelah selatan rumah Pak Kamituwa, Bu.”
                  “Wajahmu pucat sekali.”
                  Air mataku tak terbendung lagi. Aku menangis. Rasanya
              tak tahu malu menangis di rumah orang, tapi aku benar‐benar
              bingung  harus  bagaimana.  Aku  hanya  ingin  menangis
              menumpahkan semua beban hatiku.
                  Setelah  tangisku  reda,  kuceritakan  semuanya.  Tarisa
              menarik  tangan  ibunya  ke  dalam  rumah.  Entah  apa  yang
              mereka bicarakan, kemudian mereka keluar sambil membawa
              amplop dan menyerahkannya padaku.
                  “Ini uangku sendiri, kusumbangkan buat kamu. Mungkin

              ini bisa sedikit membantu.“
                  “Tapi .…”
                  “Tidak  apa‐apa,  ambil  saja.  Saya  ikhlas.  Saya  mendapat
              pelajaran yang berharga dari peristiwa yang kamu alami. Saya
              sekarang  sadar  untuk  selalu  berhati‐hati  apabila  meminjam
              pada orang lain. Saya akan mengubah sikap untuk tidak lagi
              sembrono.”
                  “Terimakasih,  Tarisa.  Semoga  Allah  SWT  membalas
              kebaikanmu. Aamiin yaa Rabb.”
                  Alhamdulillah,  hatiku  sangat  terharu.  Masalahku  telah
              terpecahkan.  Tulus  kuucapkan  terima  kasih  kepada  Tarisa.
              Kujabat erat tangannya. Baru kuketahui ternyata Tarisa juga


                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 65
   72   73   74   75   76   77   78   79   80   81   82